Archive Pages Design$type=blogging$count=7

5 Alasan Dilarang Pernikahan Sesuku Di Miangkabau


Biasanya sesuatu hal yang dilarang pasti ada sebab dan sebuah alasan yang membuat hal tersebut menjadi dilarang. Banyak orang yang menyepelekan segala sesuatu yang dilarang dan cendrung untuk mengabaikan larangan tersebut. Padahal dibalik larangan tersebut ada warning atau peringatan agar kita dapat hidup lebih baik.

Seperti halnya salah satu yang dilarang dalam ajaran adat Minangkabau. Dalam ajaran adat Minangkabau dilarang pasangan muda mudi menikah yang memiliki suku atau ikatan darah yang sama. Larangan tersebut tentu ada dasarnya, dan kenapa dalam adat Minang melarang pernikahan sesuku atau memiliki ikatan darah.

Berikut ini adalah 5 alasan kenapa dalam ajaran adat Minangkabau dilarang Menikah sesuku:

1. Keturunan Tidak Berkualitas

Dalam studi ilmu kedokteran mengatakan keturunan yang berkualitas apabila keturunan dihasilkan dari orang tua yang tidak mempunyai hubungan darah sama sekali. Adapun keturunan yang terlahir akibat hubungan darah yang sama akan mengalami kecacatan fisik dan keterbelakangan mental (akibat genetika).
Secara genetis sebanyak 25 persen anak hasil pernikahan sedarah akan mengalami kelainan bawaan. Contoh penyakit yang disebabkan oleh penyakit keturunan antara lain buta warna, hemofilia (kelainan genetik karena kekurangan faktor pembekuan darah), thallassaemia (kelainan darah), alergi, albino, asma, diabetes melitus dan penyakit-penyakit lainnya yang dibawa oleh kromosom. Selain itu juga ada tinjauan psikologis yang tidak mudah untuk dihindari.

2. Mempersempit Pergaulan

Orang yang sesuku adalah orang-orang yang sedarah, mempunyai garis keturunan yang sama yang telah ditetapakan oleh para tokoh dan ulama Minangkabau yang terkenal dengan kejeniusannya. “Ibaraiknyo cando surang se mah Laki-laki nan ‘Iduik’ atau cando surang se mah padusi nan kambang”.

Pengucilan secara adat yang disebut dengan kiasan “dilotakan di Bukik nan tak baangin, dilua nan tak basarok”. Dalam adat-istiadat di Minangkabau kemenakan yang melakukan kimpoi sesuku, dianggap seperti binatang yang tidak punya malu, kiasannya “Laksana buah baluluk, tacampak ka aia indak dimakan ikan, tacampak kadarek indak dicatuk ayam”.

Bentuk nyatanya pengucilan ini adalah seperti, apabila keluarga yang melakukan kimpoi sesuku melakukan pesta maka masyarakat adat tidak akan menghadirinya. Kemudian kalau malam Idul Fitri maka rumah keluarga pelaku kimpoi sesuku tersebut tidak diadakan acara takbiran oleh warga sukunya masing-masing.

3. Mengganggu Psikologis Anak


Anak-anak hasil dari perkimpoian sesuku tidak memiliki suku/kampuang di kenegerian dan tidak memiliki hak-hak secara adat. Kemudian anak tersebut disamakan statusnya dengan anak hasil perzinahan/anak luar nikah atau dalam bahasa kampungnya “Anak Gampang”.

4. Akan Terjadi Perpecahan Dalam Suku

Mereka yang kimpoi sesuku diyakin sebagai pelopor kerusakan hubungan dalam kaumnya (kalangan satu suku). Ketika pernikahan sesuku terjadi, konflik besar akan mudah terjadi. Ibaratkan sebuah negara, akan lebih mudah hancur apabila terjadi perselisihan sesama rakyatnya daripada perselisihan sesama dengan negara lain.

Ketika suami istri bertengkar lalu saling mengadu ke orangtua masing-masing, maka kedua orangtua mereka juga mengadu ke saudara-saudaranya, ke mamak, ke datuk. Akhirnya terjadilah banyak pertengkaran, padahal mereka badunsanak dan sesuku. Akhirnya suku hancur gara-gara perkimpoian ini.

5. Kehilangan Hak Secara Adat dan Menerima Sangsi Adat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan perkimpoian satu suku berdampak pada rusaknya tatanan adat yang sudah berlaku sejak lama, pemberian sanksi bagi pelaku dan keluarga baik moril maupun materiil, serta hilangnya hak terhadap harta pusaka dan kaburnya sistem kekerabatan matrilineal dan cenderung mengarah ke sistem parental.

Agama, pergaulan bebas, berkurangnya wibawa penghulu adat, pendidikan dan melemahnya daya ikat peraturan adat menjadi faktor-faktor penyebabnya. Oleh karena itu dengan perkimpoian antara anggota suku yang berbeda tetap menjamin kelangsungan sistem kekerabatan matrilineal.

Denda secara adat/diberi hutang satu ekor kerbau, dimana keluarga pelaku kimpoi satu suku didenda satu ekor kerbau dan mereka harus memasaknya sendiri. Setelah selesai dimasak maka dipanggil seluruh warga untuk menikmati hidangan, hal ini dilakukan untuk memberikan sanksi kepada keluarga besar pelaku kimpoi sesama suku.
Nah itulah 5 alasan kenapa manusia dilarang menikah sesuku, semoga informasi ini bermanfaat. Silahkan submit e-mail sahabat jika ingin berlangganan dengan pituluik.com. Dimana website ini ditujukan untuk membahas seputar wisata, tradisi, budaya dan beberapa informasi penting lainnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Install aplikasi Pituluik Media

Tambahkan aplikasi Pituluik Media di smartphone tanpa install, buka Pituluik Media dengan browser Chrome di smartphone lalu klik ikon 3 titikdi browser kemudian pilih "Tambahkan ke layar utama". Selanjutnya klik aplikasi Pituluik Media dari layar utama smartphone Anda.